Monday, 13 June 2011

kekalahan setelah 8 tahun

mungkin ini yang dibilang orang-orang dengan jatuh cinta. belum pernah dalam hidup gue, gue menemukan orang yang luar biasa sabar dan baik. luar biasa menghargai derajat perempuan. dan dengan sabar bisa menerima perempuannya dengan sebaik-baiknya.

saya tau tulisan saya kali ini sangatlah chessy. duh terus terang saya malu nulis tulisan macem begini. rasanya di dalam dada saya ada yang sedang terlena, tapi di sisi lain dada saya sedang sibuk teriak. mereka marah. sebagian dari diri saya ingin berontak. karena mereka telah kalah. mereka sudah kalah dihantam perlakuan baik dan juga rasa cinta yang begitu besarnya.

babiiiiiiiii!!!!!

rasanya saya ingin sekali marah. ingin teriak. sejak pertama kali saya jatuh ke lubang tak berdasar. impian perempuan abg labil, yang merasa bahwa lelaki yang menjadi pacar pertamanya lah yang akan menjadi pendamping hidup sampai akhir hayatnya, sehingga dengan bodohnya ia menyerahkan perhatian dan rasa cintanya kepada lelaki tersebut.


dan akhirnya, semua ekspetasi dari perempuan itu (saya) salah besar. saya dikhianati habis habisan. lelaki yang menjadi tambatan hati pertama saya, menjalin kasih saat masih menjadi pacar saya, dengan perempuan yang amat sangat saya benci.

ah, betapa menyedihkan dan betapa ingin matinya saya kala itu.

sejak itulah, saya berusaha untuk selalu mengaggap tinggi diri saya sendiri. saya berusaha untuk selalu mencari sisi negatif dari setiap lelaki yang menjalin hubungan dengan saya. sehingga ketida pada akhirnya hubungan tersebut kandas, tidak pernah ada rasa kecewa, menyesal, sedih, maupun tangis airmata yang keluar dari saya apabila saya harus mengakhiri hubungan dengan seseorang.

semenjak saya dikecewakan untuk pertama kalinya, sebuah benteng tak tertembus sedikit-demi sedikit mulai saya bangun. saya berhenti untuk mencintai. saya mulai untuk menekan tombol backspace terhadap kata cinta dalam hidup saya. saya mulai memupuk diri saya untuk menjadi wanita mandiri. menjadi wanita yang superior, hidup diliputi ego yang besar, sehingga selalu mau menang sendiri dan tidak mau mengalah pada pria manapun.

hari demi hari, bulan berganti bulan, dan tahun demi tahun pun terlewati. sedikit-demi sedikit saya mulai bisa melupakan kebencian saya dan mulai menetralkan rasa muak saya terhadap lelaki tersebut. pengaharapan akan perhatiannya akhirnya mulai berganti dengan rasa jijik dan muak. akhirnya saya bisa menjalani hidup tanpa angan-angan pengharapan dan mulai menapaki lembaran baru.

satu hal yang selalu saya tanamkan semenjak saat itu, bahwa lelaki, selalu baik, apabila mereka belum mendapatkan apa yang diharapkannya. mereka cenderung untuk lebih semangat mengejar apa yang belum bisa menjadi miliknya, dan seringkali menyia-nyiakan wanita-wanita yang telah mereka dapatkan.

rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, heh?

saya selalu bisa menghadapi lelaki-lelaki yang datang dan pergi. saya fikir, kalau mereka bisa menggombali dan mempermainkan perasaan wanita, mengapa saya tidak bisa melakukan hal yang sebaliknya? entah berapa banyak laki-laki yang mendekati saya, kemudian saya tanggapi, saya angkat mereka tinggi-tinggi dan akhirnya saya tolak habis-habisan hanya untuk memenuhi ego saya.

bahwa saya, perempuan yang telah dibuang dulunya, bisa membuang buang lelaki lelaki yang datang dengan penuh cinta dan harapan.

harapan my ass, pikir saya saat itu.

akhirnya, setelah hampir 3 tahun melakukan hal bodoh seperti itu, saya menjadi jenuh, dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menanggapi sana dan menanggapi sini, dan memutuskan untuk menjadi wanita dingin, sinis dan tidak menyenangkan. saya sudah lelah. kesimpulan saya, lelaki dimana-mana sama saja.

sekarang sudah tahun ke 8. hati saya sudah sekeras batu, dan saya sudah tidak bisa lagi mengenali wujud cinta dalam bentuk apapun, dan dari siapapun. saat ini saya sudah lupa bagaimana cara membagi kehangatan dengan sesama. bagaimana membuat orang lain ikut merasakan kebahagiaan yang juga saya rasakan.

hati saya bukan lagi terbuat dari batu biasa. saya sudah menjadi logam mulia.


sayang sekali. saya tahu betapa sungguh disayangkan. saya seringkali diam memandangi cermin dimalam hari sebelum saya tidur. saya berkata pada diri saya sendiri. seperti apakah rasa mencintai itu? bagaimana cara menerima dan memahami, rasa cinta yang diberikan kepada saya? apa kuncinya? dimana kunci tersebut? apa yang harus saya lakukan untuk menjadi pribadi yang hangat lagi?

saat ini adzan subuh berkumandang. saya masih saja belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaaan saya. hm. mungkin Tuhan tahu jawabannya. lebih baik saya segera pergi bertanya.

dah ah, sial. dia menjawab, kamu.


FAK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

No comments:

Post a Comment