Kening.
Itu adalah judul dari buku yang ditulis oleh
Fitri Tropica. Gue memang belum selesai membaca seluruh bagian dari
buku tersebut, tapi gue sudah membaca 6 bab pertama dari buku tersebut.
Kemudian memutuskan untuk berhenti membacanya, dan mulai menulis.
Saya
memang bukan selebritis. Mungkin cerita cinta saya tidak semenarik yang
di ceritakan oleh Fitri dalam bukunya tersebut, tapi ceritanya tentang
Arga, mengingatkan saya tentang kamu.
Malam ini, saya
resmi menangis. Tangis saya sudah terhenti rama untuk hal-hal cheesy
seperti cinta. Saya yang dulu sangat mudah untuk terenyuh hatinya karena
sebuket mawar, atau karena seseorang membukakan pintu mobilnya ketika
saya akan naik, sekarang sudah tidak lagi.
Semenjak
perpisahan saya dengan kamu beberapa tahun yang lalu, saya merubah mind
set saya. Saya berhenti untuk berfikiran naif, dan mulai berusaha
memposisikan diri saya sebagai lelaki. Saya berusaha mengenali seperti
apa tindak tanduk laki-laki. Semenjak hari itu, saya berubah menjadi
saya yang baru. Saya yang dingin, tidak punya hati, tidak punya
perasaan, kasar, cuek, dan santai.
Saya bukan lagi
menjadi perempuan kebanyakan. Sejak saat itu, saya selalu mengedepankan
logika saya dan menyimpan dalam-dalam perasaan saya. Saya selalu
membuang jauh-jauh energi positif saya dan menamengi diri saya dengan
energi dan pikiran negatif.
Buat saya saat itu, dengan
menjadi seseorang yang tidak berperasaan, tidak memikirkan dalam-dalam
suatu masalah, selalu melihat seseatu dari segi negatifnya terlebih
dahulu, akan menjauhkan saya dari rasa sakit hati yang saya alami karena
kamu. Dengan memikirkan sisi negatifnya terlebih dahulu, saya sudah
mempersiapkan hati saya apabila apa yang saya pikirkan tersebut
benar-benar terjadi. Sehingga, ketika yang terburuk memang terjadi, saya
sudah siap, dan tidak akan ada lagi perasaan yang keluar dari diri
saya, apapun itu. Marah... sedih... kesal...
Ketika
saya berpisah dengan kamu (yang bukan kamu di beberapa paragraf diatas)
beberapa minggu yang lalu, tidak ada tangis mengaharu biru, tidak ada
angin dan deru debu, apalagi bapak-bapak di pinggir jalan lagi
nyapu-nyapu. Saya menutup lembaran kisah kita dengan tawa dan canda
bersama beberapa sahabat dengan secangkir kopi di pojokan Alam Sutra.
Tapi,
membaca Kening malam ini, akhirnya saya meneteskan air mata saya.
Terlalu banyak persamaan antara kamu dan Agra. Panggil saya lebay (yang
sudah dilakukan oleh sebagian besar orang), tapi apa yang diceritakan
Fitri dalam bukunya benar-benar mengingatkan saya sama kamu.
Saya,
merasa berada di tempat Fitri, saya ingat akan ketakutan saya akan
Jogja. Ketika kerinduan saya yang memuncak akan kamu dan Jogjakarta,
dibarengi dengan ketakutan saya untuk melihat tempat-tempat di Jogja.
Karena kamu sudah seperti kutangku, kubawa kemanapun ku pergi. Sedangkan
aku sudah seperti mobil rentalan turis, keliling seluruh tempat tanpa
henti, sambil terus menerus ingin mencari. Lagi. Lagi.
Air mata saya menetes. Bukan karena cerita dibuku itu. Tapi karena saya rindu. Ketika saya sudah bisa menguasai perasaan saya, ada sebuah bagian dimana Fitri marah sekali sama Arga karena dia hanya bisa bercerita. Hanya bisa bermimpi. Tapi tidak mulai berlalu.
Itu kamu banget bukan?
Hal yang aku teriakan di malam terakhir kita bersama. Dimalam yang seharusnya besok genap kita berusia 9 bulan?
Kendi, dan ibu masih terjaga. Aku pengen meneruskan membaca buku Kening. Tapi aku takut. Aku terlampau rindu. Sama kamu.
Take care, kamu.
No comments:
Post a Comment